Cari

Winaz

Printilan Hati

Tag

Waktu

Lena Dalam Mimpi Tak Berujung

Kupandang seraut wajah, walaupun fajar telah lama berlalu, tapi dia masih saja lena dalam mimpi yang tak berujung.

Kulihat kelelahan terpancar di sekujur tubuhnya, begitu keraskah kehidupan menekan, hingga garis-garis wajahnya makin jelas dan tegas, rambut pun semakin memutih. Kulitmu kian legam dibakar terik matahari.

Aku selalu disini mendukung semua yang ingin kau raih dan capai, tanpa pernah mempertikaikan apapun pencapaian mu.

lena-dalam-mimpi-tak-berujung

Continue reading “Lena Dalam Mimpi Tak Berujung”

Bayangan Wajahmu

Berada ditengah kerumunan orang-orang yang silih berganti datang dan pergi, kujumpai bayangan wajah yang begitu lama kurindukan. Ku amati dengan sepenuh rasa, mencoba yakin bahwa itu adalah kamu.

Terhanyut didalam lautan memori tentangmu, yang telah sekian lama terkubur dalam rutinitas. Sampai tak kusadari kau telah benar-benar ada didepanku, bertentang mata saling berhadapan. Kuselami kedua matamu, tapi tatapan itu tak lagi seperti dulu penuh kasih dan perlindungan. Kau tak lagi mengenalku. Continue reading “Bayangan Wajahmu”

Prasangka Dalam Persaudaraan

Terhenyak ketika kudengar deringan sebuah telpon, telah begitu lama kita terpisah, saling menjauh tanpa ada kabar berita. Tak ku duga, kau masih akan peduli akan keberadaan diriku, setelah begitu banyak salah paham dalam hubungan kita.

Seperti itukah persaudaraan yang terjalin antara kita? Membiarkan begitu banyak ruang, tanpa rasa peduli satu sama lain. Tidak adakah darah dan denyut nadi itu mengalunkan kerinduan? Continue reading “Prasangka Dalam Persaudaraan”

Bagaimana Dengan Hati?

Bagaimana Dengan Hati

Setelah kita saling teriak, melepaskan semua amarah. Mengungkapkan semua prasangka dan alasan.
Melepaskan semua tekanan yang menghimpit jiwa-jiwa egois milik kita.

Continue reading “Bagaimana Dengan Hati?”

[Puisi] : Menunggu Keajaiban

Menunggu Keajaiban

Dalam diam dan benar-benar diam,
Tidak berbuat apa-apa.
Cuma menunggu keajaiban datang. Continue reading “[Puisi] : Menunggu Keajaiban”

[Catatan Persaudaraan] : Campur Tangan Waktu

Masih ku ingat dengan sangat jelas saat pertama kali kita berjumpa, dalam sebuah pertemuan antara senior dan junior, yang berasal dari daerah yang sama. Karena kita sangat jauh dari keluarga, terutama Ayah dan Ibu, itu membuat kita saling membantu dan menguatkan, saling menjaga dan melindungi.

Awalnya, pertemuan kita adalah sekelompok besar, kemudian waktu ikut campur, menyaring menjadi kelompok-kelompok kecil, berdasarkan kesamaan hobi dan minat dan kenyamanan dalam berinteraksi. Hingga dengan berani kita mengakui dan membuat pernyataan, kalau kita adalah saudara angkat. Perhatian-perhatian kecil yang diberi dan diterima, menbuat kita semakin akrab dan dekat seperti layaknya saudara. Continue reading “[Catatan Persaudaraan] : Campur Tangan Waktu”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑