“Bisakah, kau pulang, tinggal dan menetap,” terdengar lirih suaramu menanyakan hal itu penuh harap.

Sejenak aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

Pikiranku melayang jauh kemasa dulu, disaat kau adalah segala-galanya bagiku.

Kau adalah udara yang melegakan semua kesesakan.
Kau adalah kehangatan yang membangkitkan dan menghancurkan semua kebekuan milikku.
Kau adalah nadi kehidupanku.

aku-tak-bisa-pulang-dan-kembali

Tapi, saat itu kau sangat gigih mengatakan cintamu tak cukup baik untukku. Kau berusaha meyakinkan ku bahwa diluar sana, ada seseorang yang mencintaiku lebih baik darimu. Kau berusaha menghadirkan seseorang, menggantikan hadirmu dihati dan hariku.

Tak kau sadari, aku sedikit terluka dengan sikapmu. Seakan kau merasa aku adalah beban berat dan besar yang sangat ingin segera kau enyahkan dari hidupmu, atas nama tanggungjawab.

Kau begitu tergesa melepaskan genggaman tangan mu dari tanganku, tanpa mengindahkan kemampuan ku berdiri tanpa hadirmu disisiku.

Aku berusaha agar kau melihat cintaku dan menyadari arti kehadiranku didalam hati dan harimu. Tapi, kau seolah tak peduli. Tetap merasa, cintamu tidak cukup pantas untukku. Kau tak peduli kesiapanku melepaskan tanganmu.

Aku berusaha sangat keras, belajar memahami keinginan mu, agar aku mencintainya dan tidak mengantungkan harapan yang sangat tinggi untukmu.

Tapi kini, saat aku sudah terbiasa cuma melihat dan memandangimu dari kejauhan. Menyimpan cintaku untukmu jauh disudut hatiku terdalam.

Kau menanyakan kapan aku bisa pulang dan menetap.

Aku seperti disadarkan dari mimpi panjang. Betapa aku ingin segera berlari ke pelukanmu, menuntaskan semua kerinduan yang telah lama ku pendam.

Tapi, ternyata aku tetap tak bisa melangkah, menggapai cintamu dan melarutkan semua kerinduan dalam hangatnya pelukan mu. Ada banyak tangan yang menggantungkan harapan untuk kehadiran ku disini. Aku tak bisa pulang dan menetap. Aku cuma bisa mampir, dan berlalu pergi menjauh kembali. Menjadikan cinta mu tetap didalam kerinduan yang panjang.

Sebesar apapun keinginan ku untuk kembali bersamamu, ku tak bisa berlari menghampiri mu dengan semua kerinduan ini. Terasa itu sangat mustahil untuk diwujudkan. Karena ada kewajiban yang membelenggu langkahku untuk mendapatkan mu secara utuh. Aku harus mendengar suara hati seorang anak juga, selain keinginanku sendiri.

Kau selalu ada dihatiku, berbalut kerinduan yang tak dapat ku urai. Meski kini kau kembali menagih cinta yang dulu kau yakini tak cukup pantas untuk selalu berada di sisimu.

Iklan