Siang itu cuaca sangat panas, matahari merah menyala menyinari, seakan membakar bumi dan segala isinya. Ditambah dengan aku harus berada diatas angkutan umum, berdesakan dengan ibu-ibu lainnya yang baru pulang dari pasar mingguan, yang cuma ada pada hari Kamis.

Memang di daerahku cuma pasar mingguan ini yang cukup lengkap untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari menjual kebutuhan barang dapur, maupun pakaian dan tetek bengek yang lainnya seperti barang-barang elektronik, barang pecah belah. Pokoknya pada pasar mingguan ini cukup lengkap untuk memenuhi keperluan dari A sampai Z.

sudut-pandang

Pada hari lainnya ada juga pasar dibeberapa desa, tapi itu cuma menjual sayuran dan ikan segar. Maka pada pasar mingguan ini tumpleklah orang-orang dari beberapa desa, untuk memenuhi keperluan stok satu Minggu ke depan dan ada juga yang membawa hasil dari kebun-kebun untuk dijual secara langsung, tidak melalui pengepul lagi.

Hari itu, aku baru saja dari kantor kecamatan untuk berbagai urusan yang harus diselesaikan. Tadinya pas mau pergi, aku berangkat dengan pak Darjo, sopir kantor yang bertugas mengantar para pegawai yang ada urusan diluar. Tapi karena pak Darjo harus mengantar teman kantor yang lain ke kantor Bupati yang cukup jauh dan urusannya tidak dapat dipastikan waktu selesainya, maka aku memutuskan untuk pulang sendirian saja, naik angkot.

Ditambah lagi, pasar mingguan yang digelar dipinggir jalan membuat semrawut dan macet seperti pasar tumpah gitu.
Sementara, aku harus sampai sebelum jam kantor tutup, masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan, sebelum besok bisa didistribusikan untuk kepentingan masyarakat turun kesawah.

Cukup lama juga aku menunggu sampai angkutan penuh dengan penumpang, tapi kalau penuh dengan barang belanjaan mah sudah dari tadi.

Ada juga beberapa dari penumpang yang ku kenal, salah satunya ibu yang duduk agak dibelakang. Dia adalah pensiunan guru, tak kuingat dengan pasti ibu itu dulu ngajar apa, karena aku sendiri tidak pernah diajar oleh beliau, dan ada lagi anak sekolahan SMP duduk disampingku. Kami duduk dihadapan pintu.

Untuk mengatasi rasa bosan yang mulai menggodaku, kucoba memulai percakapan dengan Zara, anak sekolah yang duduk disampingku.

Banyak informasi yang kudapat dari percakapan ku dengan Zara. Mulai dari alasan dia memilih sekolah sekarang ini yang jaraknya lumayan jauh, dibandingkan dengan sekolah yang lebih dekat.

Ternyata anaknya cukup mudah diajak bicara, ngak seperti yang kubayangkan. Kupikir dia pendiam dan pemalu, agak sulit di ajak bicara, karena setiap kali aku main kerumahnya untuk bertemu dengan ibunya, paling dia cuma senyum dan berlalu dengan kegiatannya, dan kuperhatikan juga tidak banyak dia wara-wiri bermain dengan kawan sebayanya. Dia lebih banyak tinggal didalam rumah, kecuali saat ibunya menyuruhnya kewarung atau minta tolong mencarikan keperluan lainnya.

Dia sangat betah berada dirumah, entah karena dia tak memiliki teman sebaya yang seide atau karena dirumahnya penuh dengan segala kebutuhan yang diperlukan seperti buku atau majalah, televisi dengan chanel pilihan yang tidak semua penduduk desa memilikinya, cuma dirumah orang tertentu saja.

Keluarganya memang orang berada dibandingkan dengan orang desa lainnya Tapi hal itu tak membuatnya sombong seperti anak-anak orang berada lainnya dikampungku.

Tak terasa, ternyata angkutan sudah jalan, penuh sesak dengan penumpang dan barang bawaan masing-masing.
Hingga tiba masanya kenek meminta ongkos kepada para penumpang, mulai dari yang dibelakang sopir. Begitu juga kepada Zara.

Si ibu yang kukenal, yang duduk agak dibelakang, mulai memarahi kenek, “kalo iya pun mau minta ongkos, jangan pegang-pegang. Kamu tau dia siapa, dia anak saya. Jangan sembarangan,” suaranya kedengaran kencang dan penuh emosi.

Si kenek kaget dimarahi, tapi dia mencoba mengabaikannya karena dia merasa tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh si ibu, dengan terus melakukan aktivitasnya meminta ongkos ke penumpang lainnya.

Namun si ibu tidak terima, merasa dicuekin dan dipandang enteng, “kamu tahu saya siapa. Saya adalah seorang pendidik, dan saya tidak bisa diam saja saat ada yang salah terjadi di hadapan saya. Apalagi dia anak teman saya,” sambil menunjuk Zara.

“Maaf, Bu. Mmemangnya apa yang saya lakukan, saya cuma minta ongkos. Siapa yang saya pegang-pegang. Ibu jangan main tuduh sembarangan,” sambil menahan emosi, agar nggak ikutan marah seperti si ibu.

“Dia yang kamu pegang-pegang,” kata si ibu sambil menunjuk Zara”.

Zara merasa terkejut, terlihat jelas kerutan ketidak mengerti diwajahnya. Dia merasa tidak diperlakukan kurang ajar sama kenek tersebut.

“Kamu jangan diam saja, diperlakukan kurang ajar seperti itu,” si ibu juga memarahi Zara, “mentang dia lebih besar dan laki-laki, kamu harus punya keberanian untuk membela dan mempertahankan diri dari laki-laki yang suka mengambil kesempatan dari kelemahan kamu.”

Kulihat wajah Zara kelihatan sedikit memerah, mungkin karena malu, karena dianggap tidak bisa menjaga diri dan kehormatannya. Atau lebih tepatnya aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Dia cuma diam saja mendengarkan semua kata-kata si ibu.

Si ibu terus saja bicara memarahi kenek untuk kekurang ajarannya dan Zara untuk memberi nasehat, agar lebih berani mempertahankan diri. Hingga si ibu sampai ditempat tujuannya. Sementara penumpang lain cuma diam saja tanpa berani ikut campur, termasuk aku, karena tidak tahu duduk permasalahannya secara pasti.

Begitu si ibu turun, barulah si kenek bicara, “orang gila,” lirih dia.

“Kak, ” katanya menegurku, “kak liat nggak aku kurang ajar sama adik ini. Dik, kamu merasa abang kurang ajar ngak?” Dia terus saja menanyakan ke penumpang lain yang masih belum turun dari angkot, sambil menggaruk kepalanya, “Aduh mimpi apa sih semalam, sampai kayak gini,” katanya sedikit kesal.

Aku coba mencari benang merah terhadap apa yang terjadi. Mungkin dari sudut si ibu, tangan si kenek saat minta ongkos terlalu dekat dengan wajah Zara, hingga terlihat seperti dia memegang, atau ngambil kesempatan terhadap Zara. Padahal, aku yang duduk persis disamping Zara, tahu dengan pasti kalo si kenek tidak ada memegang wajah Zara.

Si ibu terlalu cepat mengambil kesimpulan terhadap apa yang dia lihat, tanpa menanyakan terlebih dahulu terhadap Zara atau kenek, bahkan penumpang yang berdekatan dengan Zara.

Itu jadi menimbulkan salah paham, dan membuat aku dan penumpang lainnya merasa jengah, apalagi si kenek dan Zara. Pasti akan menimbulkan efek yang lebih dalam.

Mungkin bagi Zara yang baru berumur sekitar 13 tahun akan lebih besar pengaruhnya, walau dari wajahnya kelihatan dia mencoba bersikap memahami perhatian si ibu terhadap keselamatannya. Tapi, kita nggak tahu seberapa besar efeknya dimarahi ditengah keramaian orang-orang.

Sementara si kenek ketika Zara turun, dia tetap minta maaf, “dek, maaf ya. Jangan takut, naik angkot abang lagi ya. Abang nggak seperti yang dituduhkan ibu itu kan?”

Zara cuma tersenyum dan mengucapkan terimakasih, karena dia akan terus naik angkot untuk melakukan aktivitasnya. Entah angkot ini atau yang lainnya. Dia tidak boleh merasa takut berada di dunia luar, seburuk apapun yang akan dihadapinya nanti. Dia mungkin saja akan melihat dan menyaksikan kisah cinta seorang kenek angkot dimasa yang akan datang.

Seperti itulah cerita di suatu siang, ditengah panasnya cuaca. Entah hikmah apa yang dapat dipetik untuk kujadikan pembelajaran dimasa yang akan datang.

Iklan